CIREBON | detikfakta.com – Ketika bulan Maulid tiba, suasana di Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon, Jawa Barat, berubah menjadi luar biasa. Rabu malam, 26 Agustus 2026, halaman keraton yang biasanya tenang, kini dipadati ribuan orang yang datang dengan hati penuh harap dan penghormatan, untuk menyaksikan salah satu tradisi sakral warisan leluhur yang paling dinanti, upacara Panjang Jimat.
Ritual ini merupakan puncak perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Cirebon, yang diyakini bermula sejak masa Sunan Gunung Jati, lalu terus dijaga dan dilestarikan dari generasi ke generasi sebagai simbol kebersamaan, iman, dan nilai-nilai spiritual yang luhur.
Setiap tahunnya, keraton menjadi magnet yang menarik masyarakat dari berbagai penjuru, ingin merasakan atmosfer religius dan kultural yang begitu kaya makna.
Pangeran Raja Adipati (PRA) Luqman Zulkaedin, yang menjabat sebagai Sultan Sepuh XV Keraton Kasepuhan Cirebon, memimpin dan mengawasi seluruh jalannya prosesi. Beliau menegaskan bahwa setiap detail dalam tradisi ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan sarana untuk merenungkan makna kelahiran dan kehidupan, khususnya kelahiran Nabi Agung Muhammad SAW.
Prosesi Penuh Khusyuk dan Makna Mendalam, Prosesi Panjang Jimat dimulai dari Bangsal Panembahan, tempat berkumpulnya para kiai penghulu serta kaum dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Mereka berjalan bersama dalam kekhusyukan, diikuti para abdi dalem yang mengenakan pakaian adat lengkap, beskap hitam dan ikat kepala batik khas Cirebon yang menambah keagungan dan kesakralan suasana.
Di bangsal tersebut, pimpinan Keraton menempati singgasana, dan prosesi dilanjutkan dengan penataan nasi rosul di atas tabsi Panjang Jimat oleh para abdi upacara. Setiap gerakan peserta berlangsung perlahan, tertib, dan penuh penghormatan — tanda bahwa momen ini sangat sakral dan dijunjung tinggi.
Sebanyak 36 piring dan 38 lilin dihadirkan dalam prosesi, masing-masing mengandung filosofi mendalam yang berakar dari ajaran Islam, menggambarkan tahapan kelahiran manusia, khususnya kelahiran Nabi Muhammad SAW. Angka-angka dan benda-benda ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol-simbol yang mengingatkan kita pada perjalanan hidup dan kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya.
“Simbol-simbol itu mengingatkan kita pada kelahiran manusia dan kelahiran Nabi,” ujar Pangeran Raja Adipati (PRA) Luqman Zulkaedin, menjelaskan makna di balik setiap unsur dalam iring-iringan tersebut.
Suasana semakin syahdu ketika pembacaan ayat suci Al-Qur’an dibawakan oleh seorang qari’, yang suaranya menggetarkan hati dan menambah kekhusyukan malam yang penuh makna itu.
Menuju Langgar Agung, Simbol Cahaya dan Harapan Ketika prosesi utama dimulai, iring-iringan Panjang Jimat bergerak perlahan menuju Langgar Agung. Di barisan depan, para pembawa lilin menyimbolkan cahaya kelahiran Nabi Muhammad SAW — cahaya yang menerangi kegelapan, membawa petunjuk dan rahmat bagi seluruh alam. Diikuti berbagai perangkat upacara seperti manggaran, nagan, dan jantungan, yang menggambarkan kebesaran dan kemuliaan Nabi.
Barisan berikutnya membawa air mawar, pasatan, dan kembang goyang, masing-masing merepresentasikan proses kelahiran: ketuban, rasa syukur, dan ari-ari. Di bagian akhir, tumpeng, nasi uduk, dan nasi putih dibawa sebagai harapan tulus agar setiap bayi yang lahir memiliki nama baik, kehidupan yang berkah, dan masa depan yang cerah.
Sepanjang jalur menuju Langgar Agung, lantunan sholawat Nabi tak henti-henti menggema, menyatu dengan rasa cinta dan kerinduan kepada Baginda Rasul. Masyarakat menyesaki sisi jalan dengan penuh hormat, tak ada yang berbicara berlebihan, anak-anak pun larut dalam suasana sakral dan damai.
Doa, Syukur, dan Berkah Nasi Jimat, sesampainya di Langgar Agung, nasi jimat ditata kembali dengan penuh kehati-hatian. Meski malam telah larut, tak satu pun peserta yang beranjak pergi. Puncak acara ditandai dengan pembacaan Kitab Al-Barzanji, yang menceritakan kelahiran dan sifat-sifat mulia Nabi Muhammad SAW, menjadikan malam itu semakin syahdu dan penuh hikmah.
Menjelang tengah malam, nasi jimat yang telah didoakan dan diberkahi dibuka kembali di ruang arum oleh keluarga keraton, lalu dibagikan kepada seluruh warga yang hadir. Masyarakat meyakini nasi tersebut membawa berkah — ada yang memakannya bersama keluarga sebagai tanda syukur, ada pula yang menyimpannya dengan penuh penghormatan, percaya bahwa keberkahan itu akan menyertai rumah tangga mereka.
Warisan Abadi yang Tetap Hidup, Tradisi Panjang Jimat telah berlangsung tanpa henti sejak Keraton Kasepuhan berdiri pada tahun 1530, melewati berabad-abad perubahan zaman, namun tetap kokoh berdiri menjaga kemurniannya.
“Segala filosofinya berasal dari nilai-nilai Islam dan perjalanan hidup manusia, serta meneladani Nabi Muhammad SAW,” tegas Pangeran Raja Adipati (PRA) Luqman Zulkaedin.
Upacara ini tidak sekadar ritual budaya semata. Ia adalah momen refleksi, perenungan, dan pengingat akan sejarah panjang Cirebon yang tumbuh berlandaskan iman, budi pekerti luhur, dan kasih sayang. Selama ratusan tahun, Panjang Jimat menjadi jembatan masa lalu, masa kini, dan masa depan mengajarkan kita untuk selalu menghormati leluhur, mencintai Nabi, dan menjaga kebersamaan yang menjadi kekuatan utama masyarakat Cirebon.
Semoga tradisi yang penuh berkah ini senantiasa lestari, terus menghubungkan hati umat, dan menjadi cahaya yang senantiasa menyertai langkah kita semua.
(Laporan: Dariman A. Md)


















