CIREBON | detikfakta.com – Di tengah derasnya arus perubahan zaman, masyarakat Desa Cikeusal, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, tetap teguh menjaga dan merawat warisan luhur para pendahulu.
Pada Sabtu, 22 Agustus 2026, suasana penuh syukur dan khidmat menyelimuti seluruh penjuru desa saat Mama Kuwu Dedi Karsono, selaku Kepala Desa Cikeusal bersama segenap warga menggelar kegiatan Syukuran Sedekah Bumi yang dirangkaikan dengan Pagelaran Wayang Purwa Mangun Sari, sebuah peristiwa budaya yang sarat makna filosofis dan spiritual.
Sedekah Bumi bukan sekadar seremonial belaka. Bagi masyarakat agraris yang lekat dengan kehidupan tanah dan alam, tradisi ini merupakan wujud tulus rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia hasil bumi yang melimpah, sekaligus penghormatan mendalam terhadap alam yang senantiasa memberi kehidupan, serta doa bersama agar desa senantiasa dilindungi, diberi keselamatan, dan dijaga keharmonisannya. 
Mama Kuwu Dedi Karsono dalam semangat kebijaksanaannya memandang pelestarian adat istiadat ini sebagai amanah besar yang harus terus dipelihara dari generasi ke generasi, sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan masyarakat Desa Cikeusal.
“Mengadakan syukuran sedekah bumi ini adalah cara kami meneruskan jejak para leluhur. Bukan sekadar ritual, melainkan pengingat bahwa hidup ini harus selalu disertai rasa syukur, menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, menghormati alam yang menjadi sumber kehidupan, dan senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta,” ungkap Mama Kuwu Dedi Karsono dengan penuh ketulusan.
Pagelaran Wayang Purwa Mangun Sari yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan ini pun bukan sekadar hiburan semata. Dalam setiap gerak laku wayang, alunan gamelan, dan tembang yang dinyanyikan, tersimpan nilai-nilai kearifan hidup, ajaran moral, filsafat ketatan, serta pesan-pesan kebajikan yang telah diwariskan turun-temurun. Wayang menjadi media penerang jiwa, sarana pendidikan karakter, sekaligus cermin perjalanan hidup manusia dalam menjalani dharma dan mengarungi samudra kehidupan.
Kegiatan syukuran dan pagelaran ini berlangsung dalam suasana yang penuh keakraban, kebersamaan, dan kegembiraan. Warga berkumpul, berbagi rezeki, saling bertegur sapa, dan mempererat tali persaudaraan yang menjadi ciri khas kehidupan masyarakat pedesaan yang harmonis. Semangat gotong royong dan kebersamaan inilah yang menjadi fondasi kokoh dalam menjaga kedamaian serta kemajuan Desa Cikeusal.
Melalui pelaksanaan syukuran sedekah bumi dan pagelaran wayang purwa tahun 2026 ini, Desa Cikeusal memberikan teladan bijaksana bahwa kemajuan zaman tidak harus mengikis jati diri budaya bangsa. Sebaliknya, tradisi dan kearifan lokal justru menjadi sumber kekuatan spiritual dan sosial yang tak ternilai, menjadi akar kokoh yang menopang masyarakat agar tetap tumbuh dan berkembang dengan bermartabat.
Semoga semangat syukur, pelestarian budaya, dan kebersamaan yang tercermin dalam kegiatan ini senantiasa membawa keberkahan bagi seluruh warga Desa Cikeusal, menjadi inspirasi bagi daerah lain, serta terus mengalirkan kebaikan bagi kehidupan generasi mendatang.
(Laporan: Dariman A. Md)


















