banner 728x250

Sigit Purnomo : Empat Pilar Jangan Berhenti di Spanduk, Harus Terlihat dalam Perilaku Sehari-hari

banner 120x600

 

detikfakta.com | | Jakarta – Minggu, 20 September 2026 — Sosialisasi Empat Pilar MPR RI tidak seharusnya berhenti pada hafalan mengenai Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Nilai-nilai tersebut justru diuji dalam hal-hal sederhana yang dilakukan masyarakat setiap hari.

 

Hal tersebut disampaikan Anggota MPR RI Sigit Purnomo, S.A.P., S.H., dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, 20 September 2026.

 

Menurut Sigit, tantangan menjaga nilai kebangsaan saat ini tidak selalu hadir dalam bentuk konflik besar. Tantangan tersebut dapat muncul dari cara masyarakat berkomunikasi, menyikapi perbedaan pendapat, menggunakan media sosial, hingga bagaimana seseorang memperlakukan orang lain yang berbeda latar belakang.

 

“Jangan sampai kita hafal Pancasila, tetapi lupa menerapkannya ketika berbeda pendapat. Jangan sampai kita bicara persatuan, tetapi mudah terprovokasi hanya karena perbedaan pilihan, pandangan, atau informasi yang kita lihat di media sosial,” ujar Sigit.

 

Ia menilai perkembangan teknologi membuat masyarakat memiliki ruang yang semakin luas untuk menyampaikan pendapat. Namun, kebebasan tersebut juga harus diiringi tanggung jawab dan kesadaran untuk menjaga persatuan.

 

“Ruang digital juga merupakan ruang kebangsaan. Apa yang kita tulis, apa yang kita bagikan, dan bagaimana kita memperlakukan orang lain di sana merupakan bagian dari praktik nilai-nilai kebangsaan,” katanya.

 

Sigit menegaskan bahwa Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan yang dikenal sejak sekolah. Prinsip tersebut harus hadir ketika masyarakat berhadapan dengan perbedaan agama, suku, budaya, pilihan, maupun pandangan.

 

“Indonesia tidak dibangun oleh orang-orang yang selalu sama pendapatnya. Indonesia dibangun oleh orang-orang yang berbeda, tetapi memilih untuk tetap berjalan bersama,” tutur Sigit.

 

Karena itu, ia mengajak peserta menjadikan Empat Pilar sebagai kompas dalam mengambil sikap, bukan sekadar materi yang didengar dalam kegiatan sosialisasi.

 

“Ukuran keberhasilan Empat Pilar bukan seberapa banyak kita bisa menghafalnya. Ukurannya adalah apakah nilai-nilai itu terlihat dalam cara kita berbicara, bersikap, berbeda pendapat, dan memperlakukan sesama,” pungkasnya.

 

Sumber : Divisi Humas MIO Indonesia DKI Jakarta

 

Reporter : Edo

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *