detikfakta.com, Denpasar – Siapa yang menyangka, anak petani dari sebuah desa kecil di Tabanan yang dahulu hidup dalam keterbatasan, kini tumbuh menjadi seorang entrepreneur dan sosok yang mendedikasikan sebagian perjalanan hidupnya untuk dunia pendidikan. Jum at, 21 Agustus 2026.
Dialah Drs. I Wayan Suaba, MBA, Ketua Yayasan Pelangi Dharma Negara yang menaungi lembaga pendidikan Pelangi Dharma Nusantara (PDN) di Denpasar.
I Wayan Suaba lahir di Desa Kelating, Tabanan, pada 30 Juni 1950. Masa kecil yang jauh dari kemewahan membuatnya memahami sejak dini arti perjuangan, termasuk perjuangan untuk mendapatkan pendidikan. Pengalaman hidup tersebut kelak menjadi salah satu alasan mengapa pendidikan memiliki tempat khusus dalam perjalanan hidupnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Wayan Suaba mulai meniti karier sebagai seorang pekerja. Karier profesionalnya dimulai dengan bekerja di PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI), sebuah badan usaha milik negara yang bergerak di bidang pelayaran serta angkutan penumpang dan barang.
Pada masa awal bekerja, ia lebih sering mendapat tugas menghitung dan melakukan pencatatan terhadap barang-barang yang masuk. Dari pekerjaan tersebut, Wayan Suaba perlahan membangun pengalaman, kedisiplinan dan pemahaman mengenai dunia kerja.
Perjalanan kariernya kemudian berkembang. Ia mendapat kesempatan berpindah dan bekerja di lingkungan Bandara Ngurah Rai, Denpasar, khususnya di bidang kargo. Pengalaman di dunia kerja terus mengantarkannya pada kesempatan-kesempatan baru.
Salah satu fase penting dalam perjalanan profesional Wayan Suaba adalah ketika ia mendapat kesempatan bekerja di Konsulat Australia di Bali.
Bekerja di lingkungan konsulat memberikan pengalaman berbeda dibandingkan pekerjaan sebelumnya. Selain memberikan penghasilan yang baik, pengalaman tersebut juga memperluas wawasan dan jaringan profesionalnya.
Namun, di balik karier yang semakin baik, Wayan Suaba mulai memikirkan arah hidupnya. Ia kemudian mengambil keputusan untuk meninggalkan karier tersebut dan mulai memikirkan bagaimana dirinya dapat membangun kehidupan yang lebih mandiri sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat. Keputusan itu kemudian menjadi salah satu titik balik dalam kehidupannya.
Setelah meninggalkan dunia kerja formal, Wayan Suaba bersama keluarga mulai membangun usaha. Pengalaman dan jaringan yang telah diperolehnya selama bertahun-tahun menjadi modal penting dalam perjalanan tersebut.
Salah satu usaha yang kemudian berkembang adalah PT Aditya Farmatama, perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan besar farmasi atau Pedagang Besar Farmasi (PBF).
Dari usaha tersebut, Wayan Suaba dan keluarga membangun sebuah perusahaan yang terus berkembang dan memiliki jaringan usaha di sejumlah wilayah.
Perjalanan tersebut menjadi bukti bagaimana seorang anak petani dari Desa Kelating mampu membangun karier dan usaha melalui proses panjang, kerja keras serta keberanian mengambil keputusan. Namun, bagi Wayan Suaba, kesuksesan secara ekonomi bukanlah tujuan akhir.
Ketika memasuki usia sekitar 60 tahun, ia justru mulai memikirkan sesuatu yang lebih besar: bagaimana hasil kerja dan pengalaman hidup yang telah diperolehnya dapat memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.
“Saya dari awal susah sekolah,” ungkap Wayan Suaba.
Pengalaman itulah yang menjadi salah satu alasan kuat dirinya memilih dunia pendidikan. Ia tidak ingin anak-anak lain yang memiliki keterbatasan ekonomi mengalami kesulitan yang sama dalam mendapatkan pendidikan.
Bersama sang istri, Wayan Suaba kemudian sepakat menggunakan sebagian hasil kerja dan tabungan mereka untuk membangun lembaga pendidikan. Karena sekolah tidak dapat dikelola secara pribadi, dibentuklah Yayasan Pelangi Dharma Negara yang kemudian menaungi Pelangi Dharma Nusantara.
Sekolah tersebut dibangun secara bertahap, dimulai dari jenjang TK, kemudian berkembang ke SD hingga SMP.
Menariknya, sejak awal Wayan Suaba menegaskan bahwa pembangunan sekolah bukan berangkat dari orientasi bisnis. “Awalnya kita bukan bisnis. Kita memang senang membantu. Bukan orientasi bisnis,” ujarnya.
Baginya, pendidikan merupakan bentuk pengabdian. Anak-anak yang kurang mampu dan kurang beruntung tetap diupayakan mendapatkan kesempatan belajar. Sementara biaya pendidikan yang ditarik digunakan untuk menunjang kebutuhan operasional sekolah, termasuk membayar guru dan tenaga pendukung.
Dalam mengembangkan Pelangi Dharma Nusantara, Wayan Suaba tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik sekolah. Ia memberikan perhatian besar terhadap kualitas guru, proses pembelajaran dan terutama pendidikan karakter.
Menurutnya, sekolah harus mampu membentuk anak menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki etika, sopan santun dan budi pekerti.
Karena itu, guru yang bergabung juga harus memenuhi standar pendidikan dan melalui proses seleksi serta pembinaan.
Kinerja guru secara berkala dievaluasi. Bahkan, para guru diberikan kesempatan meningkatkan kompetensi melalui pendidikan lanjutan.
Sejumlah guru telah mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan hingga jenjang S2, dan ada pula yang tengah mempersiapkan diri menuju jenjang S3.
Dalam perjalanannya, Pelangi Dharma Nusantara terus berkembang. Saat ini terdapat sekitar 660 siswa dari jenjang TK, SD hingga SMP, dengan sekitar 60 guru serta tenaga tata usaha dan pendukung lainnya.
Berbagai fasilitas pendidikan dan olahraga juga terus dikembangkan untuk menunjang aktivitas siswa.
Sekolah tersebut juga telah mendapatkan akreditasi A dan memperoleh penghargaan sebagai sekolah ramah anak.
Bagi Wayan Suaba, penghargaan tersebut bukan tujuan utama. Ia justru merasa bahagia ketika melihat perubahan positif pada anak-anak yang belajar di sekolah tersebut.
Setiap pagi, ia masih sering menyapa dan menyalami para siswa. Tidak jarang, anak-anak bahkan datang dan mendoakannya agar selalu sehat dan panjang umur.
Hal-hal sederhana tersebut menjadi kebahagiaan yang menurutnya jauh lebih berharga daripada sekadar keuntungan materi.
Kini, memasuki usia 76 tahun, Wayan Suaba mulai memikirkan keberlanjutan yayasan dan sekolah yang telah dibangunnya.
Ketiga anaknya telah memiliki profesi masing-masing. Mereka tetap tercatat dalam struktur yayasan, meskipun kesibukan pekerjaan membuat mereka tidak selalu terlibat dalam aktivitas harian sekolah.
Wayan Suaba menyadari bahwa apa yang telah dibangun selama belasan tahun harus memiliki generasi penerus. Ia berharap nilai pengabdian yang menjadi dasar berdirinya Pelangi Dharma Nusantara dapat terus diwariskan.
Bagi Wayan Suaba, perjalanan hidupnya menjadi bukti bahwa keterbatasan masa lalu tidak harus menentukan masa depan.
Anak petani dari Desa Kelating yang dahulu merasakan sulitnya sekolah, kemudian meniti karier dari PT PELNI, bekerja di bidang kargo Bandara Ngurah Rai, mendapat pengalaman di Konsulat Australia, membangun usaha hingga menjadi entrepreneur, akhirnya memilih menggunakan sebagian hasil perjuangannya untuk membangun pendidikan.
Dari perjalanan tersebut, lahirlah sebuah keyakinan yang terus ia pegang hingga kini: ketika seseorang pernah merasakan sulitnya mendapatkan pendidikan, maka salah satu bentuk terbaik untuk membalas kehidupan adalah membantu orang lain mendapatkan kesempatan yang sama.
Pelangi Dharma Nusantara pun menjadi bagian dari perjalanan panjang itu—bukan sekadar sekolah, melainkan warisan pengabdian yang diharapkan terus memberikan manfaat bagi generasi Bali dan Indonesia.
Reporter : Irene


















