JAKARTA, detikfakta.com :
Gurita Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Indonesia seolah tak pernah mati meski ribuan lubang tambang ditutup paksa. Di balik kerusakan lingkungan yang masif, muncul satu nama misterius yang kini menjadi sorotan tajam: “Mr. Leo”.
Ia diduga kuat sebagai otak di balik distribusi massal bahan kimia berbahaya, Jinchan dan Sandios, yang menjadi “bahan bakar” utama ekstraksi emas ilegal di berbagai penjuru negeri.

Pegiat hukum, Irwan Abd. Hamid, secara terbuka menantang nyali Bareskrim Polri untuk membongkar sindikat ini hingga ke akarnya. Ia menegaskan, penindakan di lapangan selama ini hanya menyasar pemain kecil, sementara sang “dalang” tetap melenggang bebas.
“Jangan Cuma Tangkap Penambang Kecil”
Dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (23/5/2026), Irwan mengkritik keras fenomena penegakan hukum yang dinilainya masih “tumpul ke atas”. Menurutnya, percuma pemerintah menghabiskan anggaran untuk operasi penertiban jika rantai pasok kimia berbahaya tidak diputus dari hulu.
“Penegakan hukum tidak boleh tebang pilih. Kami mendesak Bareskrim mengungkap aktor intelektual di balik distribusi massal ini. Sosok yang kami curigai sebagai ‘Mr. Leo’ ini adalah kunci dari rantai kejahatan lingkungan yang terus meracuni negeri,” tegas Irwan.
Sindikat Terorganisir di Balik Limbah Beracun
Penggunaan Jinchan dan Sandios dalam proses pemurnian emas ilegal bukan perkara sepele. Limbah kimia ini mengandung racun mematikan yang mencemari ekosistem sungai dan tanah secara permanen. Irwan menyebut, kelancaran distribusi bahan-bahan tersebut membuktikan adanya “jaring laba-laba” yang rapi, terstruktur, dan memiliki pelindung.
Ia mendesak Mabes Polri untuk melakukan langkah taktis:
● Audit Jalur Distribusi: Melacak rantai pasok mulai dari pelabuhan masuk hingga gudang penimbunan.
● Pemetaan Aset: Menelusuri aliran dana sindikat untuk memutus motif ekonomi para pelaku.
● Penindakan Tegas: Menangkap pengendali utama (Mr. Leo) sebagai prioritas utama pemberantasan PETI.
Ujian Integritas untuk Satgas PETI
Meskipun mengapresiasi pembentukan Satgas PETI oleh pemerintah, Irwan menilai operasi yang dilakukan saat ini masih bersifat sporadis dan hanya menyentuh sisi hilir. Ia menantang Polri untuk membuktikan bahwa institusi kepolisian tidak memihak pada kepentingan pemilik modal ilegal.
“Jika Polri serius, jangan hanya menertibkan lubang tambang. Kejar ‘Mr. Leo’ dan sindikatnya. Jangan biarkan mereka terus memperkaya diri di atas kehancuran ekologi dan penderitaan masyarakat,” pungkas Irwan.
Kasus ini kini menjadi ujian nyata bagi kepolisian dalam menunjukkan taringnya melawan mafia tambang yang selama ini dianggap memiliki “imunitas” di balik layar.
Jurnalis : Edo


















