KUNINGAN – detikfakta.com – Industri perhotelan dan restoran di wilayah Cirebon Raya dan sekitarnya saat ini sedang menghadapi tantangan yang cukup berat. Penurunan tingkat okupansi hotel menjadi pembahasan paling serius dan mendesak yang harus segera dicarikan solusinya. Menyikapi kondisi tersebut, Badan Pengurus Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat bersama seluruh Badan Pengurus Cabang (BPC) PHRI se-Wilayah III Cirebon menggelar Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) yang strategis di Kabupaten Kuningan pada Rabu, 9 September 2026.
Kegiatan yang digelar di Hotel Santika Kuningan ini dihadiri secara antusias oleh perwakilan pengurus BPC PHRI dari lima wilayah strategis, yaitu Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, serta Kabupaten Kuningan yang bertindak sebagai tuan rumah. Dalam suasana diskusi yang terbuka dan konstruktif, seluruh peserta berkumpul untuk mencari formula terbaik guna menjawab tantangan okupansi yang sedang melanda dan sekaligus merancang strategi pengembangan pariwisata ke depan.
Ketua BPD PHRI Jabar: Sinergi dan Konektivitas Antarwilayah adalah Kunci
Ketua BPD PHRI Jawa Barat, Dodi Ahmad Sofiandi, dalam arahannya menegaskan dengan tegas bahwa sinergi dan penyamaan persepsi antar-pengurus daerah menjadi kunci utama agar industri perhotelan dan restoran mampu bertahan, bahkan bangkit dan berkembang di tengah kondisi ekonomi yang dinamis dan penuh tantangan saat ini. Beliau menilai bahwa bekerja secara sendiri-sendiri oleh masing-masing daerah tidak akan cukup kuat untuk menghadapi tekanan pasar yang ada.
Menurut Dodi, bentuk kerja sama konkret yang harus segera dibangun adalah konektivitas paket wisata antar-wilayah. Konsep ini menawarkan solusi cerdas di mana satu daerah yang mengadakan acara besar tidak hanya menikmati manfaatnya sendiri, melainkan juga membagi rezeki dengan daerah tetangga.
“Harus kompak. Misalnya, Cirebon mengadakan acara, lalu paket kunjungan wisatanya diarahkan ke Kuningan atau kabupaten lain di Wilayah III. Visi dan misi yang terintegrasi ini akan membuat sektor pariwisata saling mendukung dan berkembang bersama,” ujar Dodi dengan penuh keyakinan.
Konsep pariwisata terintegrasi ini diyakini akan memperpanjang masa tinggal wisatawan (length of stay), meningkatkan belanja wisatawan di berbagai daerah, dan pada akhirnya akan mengerek kembali tingkat okupansi hotel serta mendatangkan lebih banyak pelanggan bagi restoran di seluruh Wilayah III Cirebon.
Dorong Kejelasan RTRW untuk Berikan Kepastian Hukum Bagi Investor
Selain isu krusial tentang kolaborasi antarwilayah, PHRI Jawa Barat juga menyoroti dan menanggapi sangat serius mengenai pentingnya kejelasan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), baik di tingkat Provinsi Jawa Barat maupun di tingkat kabupaten/kota.
Dodi mengungkapkan bahwa kejelasan pemetaan kawasan pariwisata dalam dokumen RTRW adalah hal yang sangat krusial dan menentukan masa depan investasi. Bagi para investor yang ingin menanamkan modalnya di bidang pariwisata, kepastian hukum adalah segalanya.
“Investor memerlukan kepastian hukum. Jika RTRW jelas dan peruntukan kawasan wisatanya tegas, investor akan merasa aman untuk menanamkan modal dan membangun fasilitas pariwisata. Sebaliknya, RTRW yang abu-abu justru memicu keraguan investasi,” ujarnya menjelaskan realitas di lapangan.
Ketidakpastian tentang status lahan dan peruntukan kawasan sering kali menjadi penghalang utama bagi investor untuk masuk dan membangun hotel atau restoran baru. Oleh karena itu, PHRI secara terus-menerus akan mendorong pemerintah daerah agar segera menyelesaikan dan mensosialisasikan RTRW yang jelas dan tegas, sehingga iklim investasi pariwisata di Jawa Barat, khususnya di Wilayah III Cirebon, semakin kondusif dan menarik.
Ketua BPC PHRI Kuningan: Perkuat Kerja Sama, Jadikan Kuningan Daya Tarik Wisata
Ketua BPC PHRI Kabupaten Kuningan Hanyen Trenggono selaku tuan rumah juga menyampaikan pandangannya yang sangat positif terhadap penguatan kerja sama antarwilayah ini. Beliau menyambut baik semangat kolaborasi dan berharap hal ini dapat diwujudkan dalam langkah-langkah nyata yang saling menguntungkan.
“Intinya kita saling kolaborasi, kerja sama biar semakin erat lagi. Kuningan memperkenalkan [potensi] juga, dan harapannya ke depan Kuningan bisa menjadi daya tarik di wisata hotel dan restoran di Jawa Barat, khususnya di wilayah Cirebon Raya,” kata Hanyen dengan penuh harap.
Beliau menyadari bahwa Kabupaten Kuningan memiliki potensi wisata alam dan budaya yang sangat kaya namun mungkin belum terekspos secara maksimal. Melalui kolaborasi dengan daerah-daerah lain yang lebih dulu memiliki arus wisatawan tinggi, seperti Kota Cirebon, Kuningan berpeluang besar untuk ikut kebagian rezeki dan semakin dikenal luas sebagai destinasi wisata yang layak dikunjungi dan dijadikan tempat menginap.
BPC PHRI Kota Cirebon Inisiasi Event Internasional, Target 10.000 Pengunjung
Sebagai bukti nyata keseriusan untuk menghidupkan kembali industri pariwisata, BPC PHRI Kota Cirebon melalui perwakilannya Imam Reza Hakiki mengumumkan rencana strategis yang cukup ambisius. Pihaknya sedang menginisiasi sebuah event pariwisata berskala internasional yang diproyeksikan akan melibatkan peserta dari sejumlah negara.
Rencana gelaran acara megah ini dijadwalkan akan berlangsung pada bulan November mendatang. Hingga saat ini, persiapan sudah menunjukkan perkembangan yang sangat menggembirakan. Tiga negara, yakni Korea Selatan, Malaysia, dan Myanmar, telah secara resmi menyatakan konfirmasi keikutsertaan mereka. Sementara itu, tiga negara lainnya masih dalam tahap proses konfirmasi dan diharapkan segera menyusul.
“Ajang tersebut ditargetkan mampu menyedot hingga 10.000 pengunjung dan telah mendapatkan konfirmasi keikutsertaan dari peserta asal Korea Selatan, Malaysia, dan Myanmar,” tandas Imam Reza Hakiki dengan penuh optimisme.
Jika acara internasional ini berhasil digelar sesuai target, maka dampaknya akan sangat besar tidak hanya bagi okupansi hotel dan restoran di Kota Cirebon, tetapi juga berpotensi mengalirkan manfaat ekonomi ke daerah-daerah tetangga jika konsep paket wisata terintegrasi yang diusung BPD PHRI Jabar dapat dijalankan dengan baik.
Harapan Besar: Pemulihan Industri dan Penggerakan Ekonomi Masyarakat
PHRI secara keseluruhan berharap besar bahwa kepastian tata ruang yang selama ini didorong dapat segera terwujud dan berjalan seiring dengan penguatan promosi serta peningkatan konektivitas antar destinasi wisata di Wilayah III Cirebon.
Dengan konsolidasi yang solid dan langkah-langkah strategis seperti ini, diharapkan pertumbuhan investasi di sektor pariwisata tidak hanya akan berdampak positif pada keberlangsungan bisnis hotel dan restoran semata. Lebih luas dari itu, hal ini juga diharapkan mampu ikut menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitar destinasi wisata, membuka lapangan kerja baru, dan meningkatkan kesejahteraan warga secara umum.
Melalui konsolidasi yang dilakukan dalam Rakorwil ini, seluruh jajaran PHRI se-Wilayah III Cirebon menegaskan komitmennya untuk terus berjuang, berinovasi, dan bergandengan tangan meningkatkan daya tarik wisata daerahnya, sekaligus mendorong pemulihan industri perhotelan dan restoran di Jawa Barat menuju masa depan yang lebih gemilang.
Laporan: Dariman. A. Md


















