banner 728x250
Berita  

Kemantren Sewu Hadiri Haul Pendopo Panimbang Jati Mbah Buyut Genja Ke‑VI: Merawat Sumber Ingatan, Menjaga Arah Identitas Cirebon  

banner 120x600

CIREBON – detikfakta.com – Di tengah kesibukan zaman yang terus berubah dan bergerak cepat, upaya menjaga jejak, memori, serta nilai‑nilai luhur leluhur tetap senantiasa dijalankan dengan penuh kesungguhan. Keluarga Besar Pangeran Jayawikarta bin Sultan Sepuh IV Sultan Amir Sena Kasultanan Kasepuhan Cirebon senantiasa berikhtiar melestarikan warisan tersebut melalui wadah bernama Kemantren Sewu Keraton Kasepuhan Cirebon, yang giat melakukan penelusuran, penjagaan, serta pengenalan kembali situs‑situs bersejarah dan kabuyutan yang tersebar di seluruh wilayah Cirebon dan sekitarnya.

Ikhtiar ini tampak nyata saat perwakilan hadir secara khidmat dalam peringatan Haul Pendopo Panimbang Jati Mbah Buyut Genja yang ke‑VI sekaligus kegiatan Sapa Warga Berbasis Budaya 2026, pada Jumat 18 September 2026.

Kedatangan rombongan Kemantren Sewu yang dipimpin langsung oleh Raden Asep Suprianto Seminingrat, selaku Panglima Agung Kemantren Sewu, didampingi Penasihat Raden Oon Andhiono Seminingrat, serta turut hadir pula Ketua Lurah Cirebon Barat Sokir, S.Pd. bukan sekadar perjalanan menuju suatu tempat ataupun kehadiran dalam sebuah acara belaka.

Lebih dari itu, kehadiran ini adalah perjalanan jiwa, perjalanan budaya, serta ikhtiar menyambungkan kembali ingatan dan kesadaran masyarakat akan jati diri tanah kelahirannya — mengukuhkan kembali bahwa Cirebon adalah tanah yang diberkahi, sebagai Kota Wali sekaligus pusat peradaban besar di pesisir Pulau Jawa.

Kemantren Sewu sendiri merupakan pranata adat yang tumbuh dan dibina di lingkungan Keraton Kasepuhan, yang memikul amanah dan tanggung jawab khusus: menjaga tetap tegaknya nilai‑nilai luhur, kelestarian tradisi, serta warisan peninggalan para leluhur yang telah meletakkan dasar kehidupan bermasyarakat yang beradab, beriman, dan berbudi pekerti luhur.

Melalui kehadiran di Pendopo Panimbang Jati ini pula, masyarakat diajak bersama‑sama mengenali, mendekati, serta menghayati makna sesungguhnya beragam situs kabuyutan, petilasan para Wali dan Sesepuh, beserta tempat‑tempat yang menyimpan nilai sejarah sekaligus ajaran hidup yang amat dalam.

Kabuyutan Bukan Sekadar Tempat — Ia Penuh Jiwa, Pesan, dan Sumber Kehidupan

Dalam kesempatan menyampaikan maksud dan hadirnya rombongan, Panglima Agung Kemantren Sewu Keraton Kasepuhan Cirebon, Raden Asep Suprianto Seminingrat — yang akrab disapa Mama Ace — menyampaikan bahwa tujuan utama seluruh gerak dan langkah Kemantren Sewu adalah menghidupkan kembali kesadaran berbudaya serta kesadaran akan sejarah bangsa di tengah masyarakat luas.

“Kami ingin mengajak saudara sekalian, terutama generasi muda: janganlah melupakan budaya, jangan melupakan asal‑usul dan siapa nenek‑moyang kita dahulu. Janganlah menganggap situs, kabuyutan, dan petilasan itu sekadar tanah, batu, atau benda mati semata.

Di sanalah tersimpan doa yang tulus, perjuangan yang sungguh‑sungguh, serta nilai‑nilai yang ditanamkan dengan penuh pengorbanan. Itulah warisan yang berjiwa, warisan kerohanian — yang wajib kita pelihara, kenang, dan lestarikan,” ujar beliau dengan lembut namun tegas.

Beliau menegaskan pula hal yang amat mendasar: masih banyak generasi muda yang belum sepenuhnya memahami makna dan kedudukan kabuyutan itu sendiri. Padahal tempat‑tempat semacam ini adalah titik yang amat penting dalam perjalanan menyebarnya ajaran kebenaran, nilai kebajikan, serta peradaban yang lahir dari dakwah para Wali Allah dan para Sesepuh Keraton di tanah Cirebon.

“Kabuyutan itulah sumber peradaban kita. Di sanalah benih kebaikan ditanamkan dan dipelihara. Jika generasi sekarang tidak mengenal, tidak memahaminya — lambat laun kita akan kehilangan arah, lupa berdiri di mana, dan tak tahu lagi ke mana hendak melanggar. Itulah kehilangan yang sesungguhnya,” tegas Mama Ace.

Melestarikan Harus Hadir, Merasakan, Menghormati — Bukan Sekadar Berkata‑kata

Langkah nyata yang senantiasa dijalankan Kemantren Sewu pun tak berhenti pada semangat saja. Secara berkala para anggota berkeliling menelusuri dan mengunjungi beragam lokasi bersejarah: mulai petilasan leluhur Keraton, sumur yang disucikan, tajug‑tajug kuno, hingga bekas tempat berkumpul dan menyebarkan ajaran Islam serta kebudayaan dahulu. Di setiap kunjungan pun tidak sekadar melihat keadaannya saja — melainkan mendengarkan kisah, makna, serta pelajaran yang terkandung di dalamnya secara mendalam.

“Menjaga dan melestarikan budaya itu bukan cukup dengan berbicara saja, menulis saja, atau mengajarkan saja teori. Harus datang sendiri ke tempatnya, melihat keadaannya, merasakan suasananya, lalu menghormati dan merawatnya — barulah tumbuh rasa cinta dan kesadaran itu sendiri di dalam hati secara sungguh‑sungguh,” ujar Raden Asep Suprianto menjelaskan cara melestarikan yang sesungguhnya.

Sementara itu, Penasihat Kemantren Sewu, Raden Oon Andhiono Seminingrat, menambahkan visi besar yang diemban wadah ini: senantiasa menjadi penjaga yang setia terhadap warisan luhur Keraton sekaligus menjembatani — menyambungkan pemahaman kasih sayang budaya — antara generasi yang dahulu dan generasi yang hadir kini.

Misi yang dijalani pun nyata: merawat tetap aslinya peninggalan dan situs bersejarah, menanamkan adab serta kesadaran kerohanian sejak dini kepada anak muda, serta memperkokoh jati diri dan ciri khas budaya Cirebon — agar tak larut dan hilang tertukar di tengah derasnya arus kemajuan zaman dan perubahan dunia.

Semoga langkah dan kehadiran Kemantren Sewu ini senantiasa menguatkan ikatan persaudaraan seluruh masyarakat, serta bersama‑sama kita tetap berpegang teguh: mengenang asal‑usul, menjaga warisan, melangkah maju — namun tak pernah melupakan akar yang menopang tegaknya.

(Dariman A. Md)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *