CIREBON | detikfakta.com — Di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah, tepatnya di atas aliran Sungai Cisanggarung, berdiri sebuah jembatan yang menjadi urat nadi kehidupan warga dua desa sekaligus dua provinsi. Namanya Jembatan Gantung Pramuka, yang menghubungkan Desa Kalirahayu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon (Jawa Barat) dengan Desa Limbangan, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes (Jawa Tengah). Panjangnya sekitar 160 hingga 200 meter, membentang di atas sungai yang cukup lebar dan arusnya bisa deras, terutama saat musim hujan tiba.
Jembatan ini bukan jembatan beton yang kokoh seperti jembatan pada umumnya. Ini adalah jembatan gantung sederhana, yang lantainya terbuat dari kayu dan bambu, ditopang oleh kawat baja yang membentang dari satu sisi ke sisi lain. Di sekelilingnya masih banyak pepohonan dan vegetasi yang rimbun, menambah suasana alami namun juga menyimpan kekhawatiran tersendiri bagi siapa saja yang melintas. Setiap kali diinjak, lantai jembatan bergoyang dan berderit, membuat siapa pun yang lewat harus ekstra hati-hati. Apalagi kalau musim hujan tiba, air sungai di bawahnya naik dan arusnya semakin deras, menambah rasa khawatir di hati warga yang harus menyeberang setiap hari.
Meski sederhana, jembatan ini sangat berarti bagi warga di kedua sisi. Sebelum ada jembatan ini, warga harus berputar jauh untuk menyeberang, sehingga buang waktu dan tenaga. Sekarang, warga Desa Kalirahayu dan Desa Limbangan bisa saling berkunjung, berdagang, anak-anak bisa berangkat sekolah, dan kegiatan ekonomi serta sosial berjalan lebih lancar. Jembatan ini dibangun atas inisiatif dan kerja keras Kwartir Daerah Pramuka Jawa Barat bersama Vertical Rescue Indonesia. Sungguh karya yang patut diapresiasi, karena dari tangan para relawan, terbukalah akses yang selama ini sulit dijangkau.
Namun, seiring berjalannya waktu, kekhawatiran warga semakin besar. Kayu dan bambu yang jadi lantai jembatan mulai lapuk, kawat penopang pun butuh perawatan rutin. Warga yang melintas harus selalu waspada, apalagi kalau sedang membawa barang dagangan atau anak-anak. Bayangkan kalau hujan turun deras, air sungai naik dan jembatan bergoyang lebih kencang. Rasa aman itu belum sepenuhnya terjamin.
Itulah sebabnya harapan warga sangat besar: supaya pemerintah segera membangun jembatan permanen yang kokoh dan aman di lokasi ini. Jembatan beton yang kuat, yang bisa dilalui siapa saja tanpa rasa takut, baik saat kemarau maupun musim hujan. Jembatan yang menjamin kelancaran dan keamanan infrastruktur, yang sejajar dengan kebijakan pembangunan nasional — karena infrastruktur yang baik adalah fondasi kemajuan rakyat.
Bukan hanya warga yang berharap demikian. Bahkan orang nomor satu di Polresta Cirebon, Kapolresta Cirebon Kombes Pol. Sumarni, pun pernah angkat bicara soal ini. Beliau menyatakan bahwa hal ini menjadi perhatian dan tujuannya untuk mengoptimalkan peran Polri dalam mendukung program Presiden RI agar segera terwujud pembangunan jembatan permanen di lokasi tersebut. Artinya, kebutuhan akan jembatan yang aman bukan sekadar keinginan warga biasa, tapi sudah menjadi perhatian pihak berwenang demi keselamatan dan kenyamanan bersama.
Jembatan Gantung Pramuka sudah berbuat banyak bagi warga dua provinsi ini. Ia telah menjadi jembatan persaudaraan, jembatan ekonomi, dan jembatan harapan. Kini, saatnya pemerintah hadir untuk melengkapi harapan itu dengan membangun jembatan permanen yang kokoh, aman, dan bisa diandalkan untuk jangka panjang. Supaya warga Kalirahayu dan Limbangan bisa menyeberang dengan tenang, anak-anak bisa sekolah dengan selamat, dan roda perekonomian dua desa ini terus berputar lancar tanpa rasa khawatir. 24 Agustus 2026
(Laporan: Dariman A. Md)


















