banner 728x250

Rawat Identitas Jakarta, Bamus Betawi Tekankan Pentingnya Sejarah dan Budaya Pesisir

banner 120x600

 

detikfakta.com | | Jakarta Utara — Dalam Pembukaan dan selaku moderator Bang H. Yudhistira Tasli, M. Si., mengajak Badan Musyawarah (Bamus) Betawi mendorong penguatan fungsi Museum Bahari sebagai pusat edukasi sejarah maritim, pelestarian budaya Betawi pesisir, sekaligus ruang dialog antara pemerintah, masyarakat, nelayan, dan pemangku kepentingan dalam menjaga warisan sejarah Jakarta.

 

Dorongan tersebut mengemuka dalam kegiatan diskusi sejarah dan kebudayaan yang digelar di Museum Bahari, Jakarta Utara, Jumat (23/10/2026).

 

Menurut H. Yudistira Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Bamus Betawi untuk menggali kembali akar sejarah Jakarta serta memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga warisan budaya.

 

Di sela acara Sekretaris Bamus Betawi, Anas Mahrup, S.E., mengatakan, sejarah Jakarta tidak dapat dipandang hanya dari masa kolonial ketika Batavia berkembang. Jauh sebelum itu, kawasan Sunda Kelapa telah menjadi bagian penting dari jaringan perdagangan dan pelayaran Nusantara.

 

Menurut Anas, rangkaian kegiatan penelusuran sejarah yang dilakukan Bamus Betawi di sejumlah wilayah Jakarta menghasilkan pemahaman bahwa ibu kota memiliki akar sejarah dan peradaban yang panjang.

 

“Jakarta bukan kota yang muncul kemarin sore, tetapi memiliki akar sejarah yang sangat kuat. Sejarahnya terbentuk melalui perjalanan perdagangan, pelayaran, serta pertemuan berbagai kebudayaan,” ujar Anas.

 

Ia menjelaskan, kawasan Sunda Kelapa memiliki posisi strategis dalam perkembangan perdagangan maritim Nusantara. Aktivitas pelabuhan tidak hanya berkaitan dengan pertukaran komoditas, tetapi juga menjadi ruang pertemuan masyarakat dari berbagai daerah yang membawa bahasa, pengetahuan, agama, teknologi, dan tradisi masing-masing.

 

Anas menegaskan, sejarah Sunda Kelapa perlu disampaikan secara utuh dengan memperhatikan peran masyarakat lokal dan jaringan perdagangan Nusantara, bukan semata-mata dari sudut pandang kolonial.

 

Ia juga menilai Museum Bahari memiliki peran penting dalam memperkuat literasi sejarah masyarakat, terutama generasi muda, agar memahami perjalanan panjang terbentuknya identitas Jakarta.

 

Menghidupkan Kembali Identitas Betawi Pesisir

 

Dalam kesempatan yang sama, H. Rendra Yuniardi, M.Si., menyoroti pentingnya mengembalikan perhatian publik terhadap masyarakat Betawi pesisir yang selama ini dinilai belum mendapatkan ruang pengenalan yang memadai.

 

Ia menjelaskan, kawasan Sunda Kelapa merupakan salah satu pusat perdagangan rempah-rempah yang menghubungkan berbagai wilayah Nusantara dengan jaringan perdagangan internasional. Interaksi tersebut turut membentuk karakter masyarakat pesisir Jakarta, termasuk kebudayaan Betawi yang dipengaruhi beragam tradisi.

 

Menurut Rendra, masyarakat Betawi pesisir di kawasan Muara Angke, Kamal, dan Marunda merupakan bagian penting dari sejarah dan identitas budaya Jakarta.

 

Karena itu, ia mendorong Museum Bahari dikembangkan bukan hanya sebagai tempat penyimpanan koleksi sejarah, melainkan juga sebagai pusat informasi dan edukasi mengenai kehidupan masyarakat pesisir.

 

“Museum Bahari harus menjadi pusat data yang memperlihatkan sejarah masyarakat pesisir, mulai dari tradisi pelayaran, perahu tradisional Nusantara, hingga kehidupan sosial dan ekonomi nelayan,” ungkap H. Rendra.

 

Rendra juga mengusulkan agar penyajian koleksi museum dikembangkan secara interaktif dan digital sehingga lebih mudah dipahami masyarakat, khususnya generasi muda.

 

Menurut dia, keberadaan koleksi perahu tradisional, termasuk pinisi dan perahu layar Betawi, dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan kemampuan maritim nenek moyang bangsa Indonesia serta hubungan antardaerah melalui jalur laut.

 

Selain itu, ia mendorong pengembangan galeri khusus Betawi pesisir, kegiatan festival maritim, wisata perahu di kawasan Sunda Kelapa, serta program edukasi yang melibatkan pelajar.

 

Rendra turut menekankan perlunya perhatian terhadap keberlangsungan kehidupan nelayan dan masyarakat pesisir di tengah perubahan kawasan pantai dan pembangunan perkotaan. Menurutnya, pelestarian sejarah harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas budaya dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat setempat.

 

Ia berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat terus memperkuat revitalisasi Museum Bahari agar kawasan bersejarah tersebut semakin representatif dan mampu menarik lebih banyak pengunjung.

 

Budaya Betawi Perlu Diperkenalkan Lebih Luas

 

Sementara itu, H. Munir Arsyad, M.Pd., dalam penutupan diskusi menekankan pentingnya kerja sama antara Bamus Betawi, pengelola museum, pemerintah daerah, serta tokoh masyarakat untuk memperluas pengenalan budaya Betawi.

 

Menurut Munir, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui diskusi sejarah. Diperlukan kegiatan nyata yang membuat masyarakat dapat mengenal dan merasakan langsung kekayaan tradisi Betawi, termasuk kuliner khas masyarakat pesisir.

 

Ia mendorong adanya kolaborasi dengan pengelola museum untuk menghadirkan kegiatan pengenalan kuliner Betawi, sejarah perikanan, serta tradisi kehidupan masyarakat pesisir Jakarta Utara.

 

“Melalui kerja sama yang baik, kita berharap budaya Betawi semakin dikenal masyarakat luas dan generasi muda tidak kehilangan hubungan dengan akar sejarahnya,” tegas H. Munir.

 

Munir juga berharap diskusi tersebut menjadi awal penguatan komunikasi antara Bamus Betawi, tokoh masyarakat, dan berbagai pihak di Jakarta Utara dalam merawat kebudayaan sekaligus memperkokoh persatuan.

 

Menjaga Warisan Sejarah Jakarta

 

Diskusi di Museum Bahari menegaskan bahwa pelestarian sejarah Jakarta membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Museum tidak hanya berfungsi sebagai ruang penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga dapat menjadi pusat pembelajaran, dialog kebudayaan, dan pengembangan potensi masyarakat.

 

Bagi Bamus Betawi, penguatan Museum Bahari menjadi salah satu langkah untuk memastikan sejarah maritim Jakarta dan identitas masyarakat Betawi pesisir tetap dikenal, dipelajari, serta diwariskan kepada generasi mendatang.

 

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga warisan sejarah semakin meningkat, sekaligus mendorong kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, komunitas budaya, dan masyarakat pesisir dalam merawat identitas Jakarta.

Sumber : Divisi Humas MIO Indonesia DKI Jakarta 

 

Reporter : Redaksi/Andi

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *