banner 728x250

Saut M.S.ST, Direktur Eksekutif Total Info dan Statistik (TIS), Bantah Keterangan PPTK JPO Pejaten

banner 120x600

 

detikfakta.com | | JAKARTA – “Dugaan penyimpangan spesifikasi material pada proyek Pembangunan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Pejaten di Jalan Warung Jati Barat, Jakarta Selatan, memicu sorotan tajam. Perubahan material rangka atap dari baja ke pipa besi dinilai bukan sekadar penyesuaian desain, melainkan disinyalir sebagai modus untuk mengelabui kelebihan volume baja yang nilainya diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

 

Kita bantah omongan PPTK JPO Pejaten itu, bahwa tema sebuah JPO disesuaikan dengan fasad yang tampak di dua sisi, depan dan belakang, bukan mengubah struktur pekerjaan.” Demikian ditegaskan Direktur Eksekutif Total Info dan Statistik, Saut M.S., S.T.  Sabtu, 17 0ctober 2026.

 

Saut menyebut terdapat perbedaan mencolok antara pembangunan JPO Ciracas dan JPO Pejaten, yang dikerjakan secara bersamaan di bawah naungan Dinas Bina Marga DKI Jakarta pada Tahun Anggaran 2026.

 

Menurut Saut, di lokasi JPO Ciracas yang dikerjakan PT Pangindho Ham Mbue, struktur rangka atap menggunakan baja WF 250 sehingga terlihat kuat, kokoh, dan modern.

 

Sebaliknya, di lokasi JPO Pejaten yang dikerjakan PT Tri Putra Karya dengan nilai penawaran Rp11.128.029.437,00, tiang kuda-kuda rangka atap justru menggunakan pipa besi berukuran 3 inci yang terkesan kuno.

 

“Ada dugaan perubahan tiang rangka atap dari baja WF 250 ke pipa besi diduga dilakukan untuk mengelabui kelebihan volume baja keseluruhan yang digunakan. Kelebihan volume baja tersebut diperkirakan mencapai 10 ton. Jika dikalkulasikan dengan harga Rp43.000,00 per kilogram × 10.000 kg, nilainya mencapai Rp430.000.000,00,” terang Saut. Sabtu (17/10/2026)

 

Saut menambahkan, selisih antara perhitungan konsultan perencana dan perhitungan riil di lapangan itu coba disamarkan dengan mengubah material menjadi pipa besi, yang harganya terkesan lebih mahal karena dihitung per meter lari (m’).

 

Tak hanya tiang, bentangan gording dudukan besi hollow rangka atap di JPO Pejaten pun hanya dibuat tiga baris dengan pola sambung-potong yang terkesan asal jadi, berbeda dengan JPO Ciracas yang menggunakan empat baris bentangan.

 

“Itu diduga akal-akalan pihak PPTK, konsultan pengawas, dan pelaksana. Seharusnya, jika ada kelebihan anggaran, dananya dialihkan atau dilakukan Contract Change Order (CCO) ke item pekerjaan baru, bukan malah mengubah pekerjaan utama yang hasil akhirnya di lapangan justru berkualitas lebih rendah,” tegas Saut.

 

Saut juga menyentil alasan kearifan lokal yang sempat dilontarkan pihak dinas. Menurutnya, konsep kearifan lokal dan kesesuaian lokasi sama sekali tidak relevan jika dikaitkan dengan spesifikasi teknis rangka atap dan daya tahan struktur. Kearifan lokal seharusnya hanya sebatas elemen seni luar, ornamen, dan pewarnaan fasad.

 

Atas temuan ini, Total Info dan Statistik mendesak Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta dan Inspektorat DKI Jakarta segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan audit fisik langsung ke lapangan, ungkap Saut.

 

Sebelumnya, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Pembangunan JPO Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta, Semporanto Pandapotan Marpaung, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan masukan masyarakat.3

 

Desain JPO yang dibangun oleh Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta sejak tahun 2018 di Provinsi DKI Jakarta memiliki tema selaras dengan nilai nilai kearifan lokal di sekitar lokasi Pembangunan JPO. Pembangunan JPO Pejaten mengusung tema green lifestyle dengan kesan penghijauan melalui bentuk pohon pada facade arsitektur JPO.

 

Sedangkan Pembangunan JPO GOR Ciracas facade arsitekturnya mengusung tema sporty selaras dengan lokasi JPO yang berada di dekat GOR.

 

Guna mencapai desain JPO tersebut masing masing lokasi JPO memiliki item pekerjaan yang berbeda menyesuaikan kebutuhan desain yang akan digunakan.

 

Desain JPO Pejaten yang saat ini dibangun menggunakan rangka atap Sch 4″ yang dipasang setiap kurang lebih 4 meter baik di gelagar maupun di area tangga, penggunaan item pekerjaan ini telah sesuai dengan gambar DED yang telah diupload pada sistem inaproc e-katalog versi 6.

 

Penggunaan item-item pekerjaan ini telah melalui perhitungan serta desain yang sesuai dari konsultan perencanaan Pembangunan JPO Pejaten. Dan saat ini dalam tahap pelaksanaan pembangunan. Demikian dapat diinformasikan dan diucapkan terima kasih, jelas Semporanto.

 

Di sisi lain, Kepala Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta, Heru Suwondo, juga dikonfirmasi mengenai hal ini. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada jawaban yang berikan. (*)

 

Reporter : Redaksi Pusat

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *