Peneliti dari Cornell University kembali mengembangkan earphone yang dapat mendeteksi ekspresi wajah pengguna. Kali ini, mereka menggunakan teknologi berbasis sonar.

Peneliti dari Cornell University dilaporkan kembali mengembangkan perangkat earphone yang dapat menangkap mimik pengguna. Kali ini, perangkat tersebut dilengkapi dengan teknologi sonar yang digunakan untuk mendeteksi ekspresi wajah pemakainya. 

Perangkat ini disebut sebagai ‘earable’ dengan sistem yang diberi nama EarIO. Dengan menggunakan sonar, suara dari ‘earable’ akan memantul dari bagian dalam pipi pemakainya. Suara ini kemudian digunakan sebagai pendeteksi gerakan wajah dari pengguna tersebut. 

Sebelumnya, peneliti yang sama juga telah memperkenalkan teknologi earphone yang dapat membaca mimik wajah pada tahun 2020. Teknologi tersebut menggunakan kamera untuk menganalisis ekspresi wajah dari penggunanya. Sayangnya, teknologi earphone dengan kamera dinilai masih belum sesuai untuk perangkat yang dapat dikenakan. 

“Perangkat berbasis kamera yang melacak gerakan wajah itu besar, berat, dan haus energi. Ini merupakan masalah besar untuk perangkat yang dapat dikenakan,” kata Cheng Zhang, peneliti utama dari Smart Computer Interfaces for Future Interactions Lab, sebuah laboratorium Sci-Fi Cornell University, dikutip dari Engadget (20/7). 

Zhang mengungkap, pendekatan berbasis sonar dapat meningkatkan privasi, keterjangkauan, kenyamanan dan masa pakai baterai. Sementara itu, teknologi earphone sebelumnya disebut dapat menangkap banyak informasi pribadi dari pengguna karena dilengkapi dengan kamera di kedua sisi earphone

EarIO ini bekerja dengan memantulkan suara dari pipi pemakainya. Audio dipancarkan dari speaker di setiap sisi earphone, sedangkan mikrofon berfungsi untuk menangkap gema yang berubah saat wajah bergerak dan pemakainya berbicara. 

Lebih lanjut, sistem tersebut kemudian mengubah gema menjadi replika dari orang yang memakai earphone dengan menggunakan algoritma pembelajaran mendalam. Selain itu, EarIO ini juga disebut dapat mengirimkan gerakan wajah ke perangkat smartphone secara real time dan membuat avatar yang dapat digunakan dalam panggilan video.

Pada pengujian awal, perangkat yang disebut ‘earable’ ini dapat berfungsi saat pemakainya duduk dan berjalan. Faktor eksternal seperti obrolan di latar belakang, angin, dan kebisingan jalan sekitar tidak mempengaruhi sinyal akustik pada perangkat. Namun, sensitivitas tinggi dari metode penginderaan dapat menyebabkan beberapa masalah. 

“Ini bagus, karena dapat melacak gerakan yang sangat halus, tetapi juga buruk karena ketika sesuatu berubah di lingkungan, atau ketika kepala Anda sedikit bergerak, kami juga menangkapnya,” kata Ruidong Zhang, mahasiswa doktoral ilmu informasi yang juga menjadi bagian dari peneliti teknologi ‘earable’.

Sayangnya, saat ini perangkat earphone dengan sistem EarIO masih memiliki beberapa keterbatasan. Perangkat hanya mampu bekerja selama sekitar tiga jam dengan sekali pengisian daya. Ini jauh lebih hemat energi daripada sistem berbasis kamera yang digunakan tim sebelumnya. 

Oleh karena itu, para peneliti berencana untuk meningkatkan masa pakai baterai di masa depan. Mereka juga bertujuan untuk menjadikan EarIO sebagai perangkat plug-and-play. Namun, untuk model saat ini, peneliti masih membutuhkan pelatihan data wajah selama 32 menit sebelum penggunaan pertama.
 


Artikel ini bersumber dari www.tek.id.