Tiba di Amerika tahun lalu, baru saja beberapa hari, Ratna Ariyanti masih menjalani isolasi. Berangkatnya di tengah musim salju, ketika dunia sedang dilanda wabah Covid-19. Awal pandemi, di Amerika belum ada vaksin, sehingga Ratna harus segera isolasi begitu tiba di Negeri Paman Sam.

Ia menyaksikan terjadi serangan yang mengkhawatirkan. Para pendukung Donald Trump, kandidat yang kalah di pemilu presiden AS, menyerbu Gedung Capitol. Bagaimana orang-orang dengan kekerasan, video-videonya beredar, masuk ke Capitol Building berteriak-teriak. Ratna jadi terpukul pas melihat itu semua.

“Setelah itu, ternyata studi-studi lanjutan yang dilakukan untuk menganalisis orang-orang yang menjadi bagian dari penyerbu ke Capitol Building itu, tidak selaras dengan asumsi bahwa mungkin orang-orang itu pendidikannya rendah misalnya, pengangguran, sehingga mudah diprovokasi untuk menyerbu dan berangkat dalam gerakan yang seperti dikomando,” katanya dalam Konferensi Jurnalisme Data dan Komputasi Indonesia 2022, Jumat (29/7).

Menurut Ratna, data terakhir itu setidaknya 884 orang yang ditangkap. Salah satu studi menarik yang menganalisis lebih 700 orang, jadi lebih dari 50 persen dari orang-orang yang ditangkap itu dianalisis. Hanya tujuh persen yang pengangguran.

“Itu ‘kan a very small persentage ya? Kalau kita lihat,” ungkap Ratna yang kini bergiat di CekFaktacom.

Ratna mengatakan, pada era-era periset awal, antara tahun ’50-an sampai ke awal tahun 2000, itu terdapat konsep yang berangkat dari premis bahwa ketika orang dengan pendidikan yang lebih rendah, dia akan membuat keputusan yang kira-kira kurang lebih tidak akan sama dengan orang-orang yang pendidikannya lebih tinggi dari tingkat literasi.

Orang-orang dengan pendidikan terbatas itu, misalnya, tidak membekali diri mereka dengan informasi yang cukup. Berbeda dengan mereka yang berpendidikan lebih tinggi.

Jadi, jalan keluarnya adalah tingkat pendidikan dinaikkan, dengan harapan warga negara dapat membuat keputusan politik yang jauh lebih rasional. Berangkat dari informasi yang terpercaya dan juga bisa diuji kebenarannya. Pengambilan keputusan yang lebih berkualitas dan lebih baik ini diharapkan juga dapat menghasilkan kualitas para pemimpin politik yang juga jauh lebih baik. Misalnya tidak mengobral janji, tidak menyampaikan janji yang jauh dari fakta dan sebagainya.

“Tapi sayangnya riset ini belakangan itu, jadi banyak sekali di lapangan yang kita lihat tidak sejalan, karena ada banyak riset lanjutan. Akhirnya menunjukkan bahwa perubahan tingkat pendidikan itu yang tadi diharapkan membawa perubahan kualitas pemimpin politik itu juga tidak tidak lagi searah, tidak lagi sejalan harapannya,” kata dosen Universitas Multimedia Nusantara, yang menempuh doktoral studi di E.W. Scripps School of Journalism, Ohio University.
 
Dengan arti lain, riset antik tersebut sudah terbantah oleh gerombolan penyerbu Gedung Capitol mutakhir di Amerika.


Artikel ini bersumber dari www.alinea.id.