Matanya berbinar seraya terbayang Juansih muda yang dipanggil oleh Komisi Pengarahan Sarjana-kini menjadi Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS) ketika dirinya telah menyelesaikan semua ujian tersebut. Meski belum mengetahui posisi yang akan ditempati, lantaran perpaduan dalam ABRI menyatukan kepolisian dan militer, ia tidak mau ambil pusing. Baginya, ia tetap akan berkarya di sana. 

Keilmuan guru dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung yang kini disebut sebagai Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) rupanya menjadi bekal bagi Juansih untuk berkarya sebagai polisi. Mengenyam pendidikan di sana juga tidak lepas dari amanah orang tua yang merupakan tenaga pengajar. 

“Orang tua seorang guru makanya saya S1 di IKIP dulu,” katanya.

Setelah Strata 1 dilewati, ia belajar di Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri sebagai perwira. Berlanjut, dua jenjang ilmu hukum juga diembannya dengan baik oleh Juansih. 

Bukannya tanpa alasan, saat ditempatkan sebagai Kapolres Surabaya, menyadarkannya akan mengemban lebih banyak ilmu untuk mengatasi berbagai persoalan keamanan masyarakat di sana. Perkara kamtibmas dan kaitannya dengan industri membuatnya belajar ilmu hukum dengan penjurusan hukum bisnis.

Isu industri kerap menganggu tidur nyenyaknya karena hampir 385 perusahaan dengan 80.000 buruh menghiasi hari-hari selama di sana. Akhirnya, pendidikan doktoral juga telah lunas di Universitas Airlangga Surabaya dengan konsentrasi Pengembangan Sumber Daya Manusia. 

Tuntas mengenyam pendidikan kepolisian awal itu, karir mentereng dilewati satu per satu. Sebut saja Kapolres Surabaya Timur dengan berbagai persoalan di atas, Kapolres Batu, Wakil Kepala Kepolisian Wilayah Bojonegoro Polda Jawa Timur, Kepala Biro SDM di Polda Banten, hingga 
Kepala Biro Logistik di Polda Jawa Timur. 

“Baru ikut Sekolah Pimpinan Tinggi di Lembang,” ucapnya masih dengan binaran mata. 

Terjeda, ia membayangkan kejadian penangkapan teroris Nurdin M Top saat dirinya menjabat sebagai Kapolres Surabaya Timur. Salah seorang warga tidak tahu telah menyewakan sebuah tempat tinggal untuk seorang teroris. 

Jalinan komunikasi dengan Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri, memudahkan langkah Juansih untuk memastikan situasi warganya aman. 

Latar belakang guru, dan menjadi penindak hukum praktis sebagai kapolres, rupanya bukan dunia yang jauh berbeda menurut Juansih. Edukasi dan penyuluhan kepada warganya adalah peran yang lancar digelontorkan. 

Keriuhan supoter Klub Bola Persebaya Surabaya juga mewarnai hari-harinya sebagai Kapolres. Apalagi, Stadion Gelora 10 November di Kecamatan Tambaksari masih berada di wilayah hukum yang diayomi. 

Apalagi, kegiatan kriminalitas harian masih kerap terjadi saat itu. Sebagai contoh, pencurian kendaraan bermotor, perampokan, dan penjambretan. 

Pembangunan jembatan Suramadu-penghubung Surabaya dan Madura-juga masuk dalam pengalaman dirinya. Patroli dilaksanakan hampir setiap saat supaya jembatan itu terbangun dengan baik dan segera digunakan masyarakat Surabaya. 

“Dulu Suramadu belum ada, pas pembangaunan zaman ibu. Belum lagi di bawah nya dicuri-curi,” katanya sambil membayangkan Juansih yang dulu. 

Penuntasan semua kewajiban tersebut sudah menjadi prestasi baginya. Namun, tak dipungkiri bahwa hal itu menjadikannya jarang tidur. 

Sebagai wanita, tantangan dirinya juga tidak hanya secara profesional, namun juga hal-hal personal. Menstruasi misalnya, rutinitas kaum hawa ini tidak hanya membuat goyah fokus saat kerja, namun kondisi pribadi. Kondisi psikologi dengan sensitifitas yang tinggi bukan lagi soal bagi Juansih untuk menjaga etos kerjanya. 

Terlontar sebagai pesan dari Juansi, kodrat wanita dengan menstruasi dan melahirkan harus berjalan dengan jati diri seorang Hawa yang mumpuni atas dirinya sendiri. Tentunya, hal itu tidak dibawa ke kantor sebagai motor yang menjadikan pekerjaannya kian molor. 

Meluas ke ranah rumah tangga, benih-benih moral juga ditanamkan kepada buah hatinya. Harapan besar, mereka dapat menyirami bibit yang ditanamkan itu dan berbuah ranum. 

Masuk pada 2008, dengan pangkat AKBP tidak membuat keringatnya berjalan di tempat. Malah, setelah Kapolres Batu dan menjadi Wakapolwil di tahun itu, eselonnya naik satu tingkat untuk memantapkan dirinya menjadi jenderal di kemudian hari. 

Setelah keringatnya terhempas di Badan Narkotika Nasional (BNN) baru pangkat bintang satu melekat di pundaknya menggantikan tiga kembang sebelumnya. Tugas sebagai Direktur Pemberdayaan Alternatif, meminimalkan penindakan tapi memaksimalkan pendidikan ia jalani. 

Daerah rawan narkoba mulai berubah menjadi ramah niaga. Tanaman ganja berubah jadi lahan kopi. Karya lintingan daun mariyuana menjadi lintingan lebih gemuk dengan isi daging ayam yang disebut lemper. 

Juansih membayangkan kembali semua pelatihan yang ditanamkan itu kini berbuah wangi. Warga lokal hampir tidak menyentuh ganja dan beralih profesi dengan lebih cuan. 

Bukan perkara mudah, pergumulan besar depan mata besar taruhan apabila harus berdebat. Kehidupan warga dengan uang yang mudah sekali didapat karena setiap panen ganja bisa dibayar Rp5 juta, penyewaan bong Rp100.000 per hari sampai uang dengar didapatkan Rp500.000 per minggu. 

Tak dipungkiri, Juansih tentunya menemukan kesulitan untuk membuat mereka melawan utopis seperti itu dan menggantinya kepada sesuatu yang lebih menguntungkan. Kendati demikian, daerah Seminyak di Bali dan Kampung Beting Pontianak di Kalimantan Barat menunjukkan hasil upaya dari Juansih.

Pemikiran terhadap anak-anak sebagai para kurir barang haram menurut kacamata warga mulai bergeser. Pemegang tampuk masa depan negeri ini mulai dikirim ke sekolah untuk menjadikan kualitas diri mereka lebih tinggi dari sekedar kurir narkoba. 

Kini dirinya kembali ke Lemdiklat, ranah pengajar tidak asing membuat Juansih seakan kembali ke habitat. Serangkaian pengalaman itu dibagikannya kepada polwan-polwan yang akan meneruskan jejaknya. 

Perkara kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan adalah fokus Juansih. Kelak dirinya akan kembali ke kampus tempat dirinya menamatkan Strata 3 untuk mengabdi kepada Bhayangkara agar membentuk polwan yang semakin diidamkan. 

Komunikasi dengan keluarga ataupun suami adalah pokok penting bagi seorang polwan. Tentu, impian untuk pengabdian kepada Korps Bhayangkara diharapkan tidak tersandung oleh lembaga sebesar keluarga. 

Setali tiga uang, demikian dengan Kepala Bagian Penerangan Umum Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri yang baru. Lahir dengan nama Nurul Azizah telah memanjakan keilmuan hingga level Doktoral. Pangkat Kombes tersemat di pundaknya dengan menerima jabatan baru itu. Padahal, karir dalam Polri tidak pernah berurusan dengan kehumasan melainkan manajemen dan pendidikan. 

Dirinya merupakan bintara Polwan angkatan 1991. Dia telah menempuh pendidikan Diploma 3 Ilmu Kepolisian dengan hasil 20 besar terbaik pada tahun 1994-1997. Alhasil, Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Polri menjadi tujuan berikutnya dan menerima pangkat Ipda. 

Penempatan di Markas Besar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) menjadi titik peranjakan karir Nurul. Ketika reformasi, Nurul kembali ke Mabes Polri, persisnya Disrena Mabes Polri. 

Nurul menceritakan mengenai proses pendidikannya yang diemban pada 2005-2006. Kala itu, Nurul sudah menjadi soeorang ibu yang tetap harus menjalani pendidikan Strata 1 Ilmu Kepolisian.

Empat tahun kemudian, Nurul bertugas di Polda Metro Jaya. Tidak lama, ia menerima beasiswa Strata 2 pada 2012 sebelum ditempatkan di Biro SDM Polri. Dari sana, ia kembali ke Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) bukan untuk belajar, namun mengajar. 

Semua pengalamannya digunakan untuk membentuk Korps Bhayangkara melalui Kepala Sub Bagian Program Studi S3 selama dua tahun dan kembali ke Disrena Polri, hingga akhirnya menerima pangkat kembang tiga atau Kombes di bidang analis. Bidang ini juga tidak lama diemban, ia kembali ke PTIK sebagai dosen utama dan Kepala Program Studi S3. 

“Adaptasinya ga ribet karena sekolah saya manajemen kelembagaan dan manusia. Begitu ditempatkan di suatu tempat harus segera ngeblend,” ujarnya diiringi gestur tangan membentuk bola. 

Pertemuan singkat ini menunjukkan pendidikan polwan tak ayal berbeda dengan anggota polisi lainya. Pendidikan akademi, fisik, dan attitude, serta kedisiplinan adalah wajib bagi setiap anggota. 

Keresahan tak nampak dalam mimik ketika membayangkan kembali dalam ingatan segarnya kala mengajar para polwan yang masuk generasi milenial. Generasi yang identik dengan handphone tidak lepas dari tangan bukanlah suatu perkara. Sosoknya memang tergambar sebagai dosen nan tegas.

Mereka menerima didikan untuk menjadi polwan yang sama tangguhnya dengan anggota polisi yang lain. Melek teknologi, harus menjadi potensi bagi anggota polisi untuk tidak gagap. 

Berlatar belakang ayah seorang guru dan ibunda seorang ibu rumah tangga, membentuk pribadi perempuan asli Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, ini menjadi berimbang dalam kehidupan profesional dan personalnya. Seorang suami dengan lingkungan serupa, serta tiga anak telah memahami kehidupan Nurul untuk menjalankan semua perannya. 

Waktu berkualitas di akhir pekan menjadi momen bagi mereka berlima untuk membangun tali kekeluargaan. Baik ada maupun tidak ada kesibukan lainnya, komunikasi tetap berjalan. 

Pembekalan agama menjadi dasar dalam setiap rentetan nasihat yang dilontarkan kepada anak-anaknya. Begitu pula ketika ia berdiri di depan semua mahasiswa dan polwan. 

“Pesan saya kepada adik-adik polwan generasi penerus jadi diri sendiri tidak hanya kecerdasan tapi juga keimanan dalam tugas profesinal tanpa mengesampingkan keluarga, dan jangan cengeng,” ucapnya sambil tersenyum.

Dia tak memungkiri, menjadi hal baru dalam karirnya adalah posisi saat ini. Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri.

Nurul kini tak bersinggungan dengan para mahasiswa dan polwan. Awak media, pemberitaan, dan peristiwa akan mengiringi hari-harinya. 

“Ya tentu sebagai anggota Polri tidak peduli Polwan atau bukan, harus selalu siap ditempatkan di manapun dan harus bisa ngeblend.”


Artikel ini bersumber dari www.alinea.id.