Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Penny Lukito, menilai Indonesia memiliki potensi yang besar untuk pengembangan obat. Hal ini didasarkan pada tersedianya kekayaan sumber daya alam, maritim, dan biodiversity.

Dikatakan Penny, hingga saat ini industri farmasi Indonesia masih bergantung pada bahan baku dan obat impor, khususnya untuk obat yang diproduksi dengan teknologi tinggi (advanced technology).

Selain itu, Indonesia masih menjadi pengguna hasil inovasi dari negara lain dan belum menjadi inventor. Ini disebabkan pada umumnya industri farmasi Indonesia belum menjadikan riset sebagai basis dalam pengembangan bisnis.

“Pandemi Covid-19 menjadi momentum dalam mendorong banyaknya inisiatif penelitian dan pengembangan, baik obat maupun vaksin, yang bertujuan untuk pengobatan dan pencegahan terhadap penyebaran penyakit Covid-19. Hal ini merupakan salah satu upaya menuju kedaulatan kesehatan, terutama kemandirian produksi vaksin dalam negeri agar tidak tergantung pada produk vaksin dari luar negeri,” kata Penny dalam keterangannya, Jumat (26/8).

Lebih lanjut, ujar Penny, seluruh penelitian dan pengembangan dalam industri farmasi perlu didukung agar produk hasil riset dapat dikomersilkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Penny mengatakan, BPOM sebagai regulator di bidang obat selalu mengawal pengembangan obat dan vaksin.

Dalam hal ini, imbuhnya, BPOM akan terus mendampingi secara intensif pada setiap tahapan pengembangan dalam rangka pemenuhan standar dan persyaratan keamanan, khasiat, dan mutu.

“Meskipun demikian, keberhasilan penelitian dan pengembangan obat dan vaksin baru tidak hanya menjadi tugas BPOM, melainkan upaya bersama secara sinergi, koordinatif, dan komunikatif antara pemangku kepentingan terkait yang tergabung dalam sinergi triple helix,” terang Penny.

Berkenaan dengan hal tersebut, BPOM menggelar Lokakarya Pemanfaatan Teknologi Pengembangan Obat dan Vaksin COVID-19 untuk Mendukung Pembangunan Ekosistem Kemandirian Obat dan Vaksin Dalam Negeri di Jakarta, Jumat (26/8). Kegiatan ini bertujuan membangun pemahaman pengambil kebijakan (government), peneliti (academia), dan pelaku usaha (business) dalam kerangka triple helix untuk mendorong terbangunnya ekosistem pengembangan obat dan vaksin di Indonesia.


Artikel ini bersumber dari www.alinea.id.