BANDUNG, celebrities.id – Kasus HIV/AIDS di Provinsi Jawa Barat menjadi sorotan sekaligus menjadi kekhawatiran masyarakat. Lalu, bagaimana upaya Pemprov Jabar mencegah penyebaran penyakit ini? 

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar, Nina Susana Dewi mengatakan, selama ini Pemprov Jabar menerapkan skema ABCDE dalam penanggulangan sekaligus pencegahan HIV/AIDS.

Dia menjelaskan, skema ini adalah singkatan dari A untuk Abstinent (tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah), B untuk Be faithful (setia), C untuk Condom use (menggunakan kondom), D untuk no Drug (tidak menggunakan narkoba), dan E untuk Education (pendidikan).

“Pencegahan HIV dengan skema ABCDE ini sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 21 Tahun 2013 Tentang Penanggulangan HIV dan AIDS,” ujar Nina Susana Dewi, Kamis (1/9/2022). 

Nina melanjutkan dalam Pasal 14 ayat 1 disebutkan bahwa abstinensia berarti tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah, kemudian be faithful berarti setia dengan pasangan. Jika kedua unsur ini tidak bisa dicegah, katanya, harus ke tahap use condom atau menggunakan kondom secara konsisten.

Adapun no drug adalah menghindari penyalahgunaan obat atau zat adiktif dan terakhir education, yakni meningkatkan kemampuan pencegahan melalui edukasi, termasuk mengobati infeksi menular seksual (IMS) sedini mungkin.

“Karena jika menggunakan Napza akan terpengaruh untuk melakukan hubungan seks dan penularan dari jarum suntik. Kemudian kita harus meningkatkan kemampuan pencegahan melalui edukasi termasuk mengobati IMS sedini mungkin,” ujarnya. 

Lebih lanjut Nina mengatakan, langkah lain yang dilakukan Pemprov Jabar dalam pencegahan penyebaran HIV dan AIDS adalah dengan elakukan skrining atau deteksi dini pada calon pengantin, ibu hamil, dan populasi kunci. 

“Selain itu, melakukan treatmen pemberian obat ARV (anti retro virus) pada orang yang didiagnosis HIV positif adalah beberapa (upaya lain) yang telah kami lakukan dalam mencegah HIV,” katanya.

Adapun penanggulangan HIV/AIDS di Jabar yang sudah dilakukan, di antaranya adalah melakukan skrining dini tes HIV pada populasi kunci, yakni wanita pekerja seksual (WPS), lelaki seks dengan lelaki (LSL), waria, dan pengguna narkoba suntik (penasun).

“Selain itu, skrining dilakukan juga kepada ibu hamil pasien TB, warga binaan pemasyarakatan (WBP) di layanan maupun secara mobile,” ucapnya. 

 


Artikel ini bersumber dari www.celebrities.id.