detikfakta.com – Sinar emas semakin benderang. Pada perdagangan Senin (12/9/2022) pukul 06: 14 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.718,10 per troy ons. Harga emas menguat 0,12%.

Penguatan hari ini memperpanjang tren positif emas. Sejak Rabu pekan lalu, harga emas terus menguat, kecuali pada Kamis. Pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (9/9/2022), harga emas juga menguat 0,51% ke posisi US$ 1.716,05 per troy ons.

Dalam sepekan, harga emas sudah menguat 0,47% secara point to point. Dalam sebulan, harga emas masih amblas 4,6% sementara dalam setahun anjlok 4,2%.

Kembali bersinarnya harga emas tidak bisa dilepaskan dari jatuhnya dolar Amerika Serikat (AS). Merujuk data Refinitiv, Dolar Indeks pada Jumat pagi pukul 06: 24 WIB di posisi 108,84 yang merupakan level terendahnya sepanjang bulan ini.

Sugandha Sachdeva, analis dari Religare Broking, mengatakan dolar AS melemah karena mata uang euro kembali menguat setelah bank sentral Eropa menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps pada Kamis pekan lalu.

“Bank sentral Eropa menaikkan suku bunga dalam jumlah besar. Keputusan ini sedikit menurunkan permintaan akan dolar AS sehingga melemah. Kondisi ini mendorong kenaikan permintaan akan emas,” tutur Sachdeva, kepada Reuters.

Namun, dia mengingatkan potensi emas untuk terus naik ke depan memang ada tetapi berat. Pasalnya, pekan depan akan ada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). Bank sentral AS Federal Reserve/the Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps.

“Kami tentu saja tidak melihat emas akan sangat menguat tajam ke depan karena masih ada isu kenaikan suku bunga tetapi setidaknya emas bisa bangkit dan menguat ke kisaran US$ 1.770,” imbuhnya.

Pelaku pasar kini menunggu data inflasi AS untuk Agustus yang akan keluar pada Selasa (13/9/2022). Inflasi sudah melandai ke 8,5% (year on year) pada Juli dibandingkan Juni (9,1%). Jika inflasi Agustus makin melandai maka ada harapan the Fed akan sedikit mengerem kebijakan agresifnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA