SURYA.CO.ID, BLITAR – Ketika masyarakat sedang bingung dengan rencana kenaikan harga BBM(bahan bakar minyak), Edi (54), warga Desa/Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar makin memperkeruh situasi dengan menjual Premium palsu. Yang mengejutkan, ternyata Premium yang selama ini dijual Edi merupakan hasil oplosan Pertalite dengan wenter atau obat pewarna pakaian.

Akal-akalan Edi itu sudah berlangsung cukup lama, tetapi boleh percaya atau tidak, Pertalite yang semula berwarna hijau dalam sekejap bisa berubah kuning seperti Premium. Seperti Bim Salabim atau sulapan, tetapi cara itu dipakai Edi karena masih banyak masyarakat di Kabupaten Blitar yang fanatik dengan Premium.

Rumah Edi pun digerebek oleh anggota Buser Polres Blitar, Senin (29/8/2022) lalu, dan di sana ditemukan beberapa drum plastik besar serta bak untuk mengoplos Pertalite menjadi Premium palsu buatannya sendiri.

“Ada banyak barang bukti yang sudah kami amankan. Seperti drum plastik yang dipakai mengoplos sekaligus menandon hasil Premium palsu itu,” kata Kapolres Blitar, AKBP Aditya Panji Anom, Selasa (30/8/2022).

Kepada petugas, Edi mengaku hanya ingin mendapatkan keuntungan meski tak sebanding dengan resikonya. Ia memanfaatkan fanatisme masyarakat di wilayahnya, bahwa Premium dianggap masih lebih bagus kualitasnya dibandingkan Pertalite.

Dari akalan-akalannya itu, Edi bisa meraup untung Rp 5.000 per liter Premium palsu, yang ia jual eceran Rp 12.000. “Masih kami kembangkan terutama sudah dijual ke mana saja, selain diecer di depan rumahnya,” papar kapolres.

Belum diketahui berapa lama aksinya itu namun menurut Aditya diperkirakan sudah setahun. Sebab Edi bukan hanya mengecer dalam botol 1 liter namun diduga juga sudah punya pelanggan yang rutin kulakan kepadanya. Dari keterangan Edi, diduga ada enam orang yang menjadi pengecernya.

“Dan mereka sudah kami periksa sebagai saksi, sedangkan Edi kami amankan. Katanya, ia belajar dari internet, untuk merubah warna Pertalite menjadi kuning hingga masyarakat percaya bahwa itu adalah Premium,” paparnya.

Aksi membuat premium palsu itu dilakukan di rumahnya setelah membeli Pertalite dari SPBU. Kemudian satu drum plastik berisi Pertalite 25 liter dituangkan ke dalam bak, lalu dicampur wenter.

Ajaib, tidak sampai 20 menit, Pertalite yang semula berwarna hijau berubah menjadi kuning. “Katanya, tidak boleh membiarkan Pertalite lama-lama di bak yang terbuka karena bisa menguap atau menyusut takarannya,” tambah Aditya.

Selanjutnya, Premium palsu hasil oplosannya itu dijual eceran dalam botol-botol di depan rumahnya, dan diberi label Premium. Penualan Premium oplosan itu laku keras meski Edi memberikan pilihan lain dengan menjual BBM Pertamax dan Pertalite eceran.

Namun yang menarik, Premium palsu itu dijual lebih mahal atau Rp 12.000 per liter namun malah laku keras. Alasannya karena masyarakat masih mencarinya. Sedangkan Pertalite, ia jual Rp 10.000 per liter, dan Pertamax Rp 14.000 per liter.

Dengan menjual Premium made in Edi itu, ia meraup untung sekitar Rp 5.000. “Kalau ditanya pembelinya dari mana bisa mendapatkan premium, ia mengaku membelinya dari luar kota yaitu Tulungagung. Sehingga ada alasan kalau dijual lebih mahal dari harga Pertalite,” pungkasnya. *****


Artikel ini bersumber dari surabaya.tribunnews.com.