Namun, trik benda-benda yang biasanya jadi media paranormal itu dibongkar pesulap Marcel Radhival alias Pesulap Merah. Pesulap yang identik dengan rambut merahnya itu rajin mengunggah rahasia di balik benda-benda tersebut di akun Youtube-nya.

Contohnya, Marcel membongkar jenglot hanya semacam figur karakter yang matanya bisa menyala karena ada tombol di bagian tubuhnya. Ada juga keris petir, yang ujungnya bisa menyala, ternyata hanya alat dengan tenaga baterai yang bisa dikendalikan menggunakan tombol atau remote.

Beberapa waktu lalu, Marcel jadi perbincangan karena berseteru dengan Gus Samsudin, yang punya padepokan pengobatan Nur Dzat Sejati di Desa Rejowinangun, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Walau sudah dibongkar Marcel, penjualan alat-alat perdukunan tak lantas sepi. Wendy misalnya. Warga Cijantung, Jakarta Timur itu menjual alat-alat yang biasa ditemukan dalam praktik paranormal, seperti semar mesem, jenglot, dan pelat kuningan bertuliskan mantra huruf Arab di media sosial dan toko daring.

Wendy mengaku, sudah melakoni bisnis itu selama 10 tahun. “Awalnya saya iseng-iseng saja, sekalian hobi (koleksi benda dianggap magis),” tuturnya, Sabtu (13/8).

Perselisihan antara Marcel dan Gus Samsudin justru membuat Wendy “kecipratan” rezeki. Karena perseteruan itu diekspos media, usaha Wendy justru meningkat.

“Banyak orang yang pengen tahu. Misalnya, ada orang lihat Gus Samsudin punya keris petir. Akhirnya dia nyari di (toko) online. Kehebohan ini membuat orang penasaran,” kata Wendy.

Keris petir, alat-alat yang bisa mengeluarkan asap, dan botol meledak, menurut Wendy merupakan benda yang kerap diburu konsumen. Rata-rata, ia menjual benda-benda itu Rp200.000.

Pelanggannya tak mengenal usia, dari remaja hingga lansia. “Tapi saya enggak tahu lebih jauh, itu dia buat apa? Perdukunan atau hanya sebatas hobi?” ujarnya.

Seorang penjual benda-benda yang dianggap punya kekuatan tak kasatmata lainnya adalah Bram. Ia mengenal benda-benda semacam itu sejak menekuni keterampilan hipnotis, yang dipelajarinya di Bekasi, Jawa Barat pada 2015.

Semula, pria asal Kulonprogo, Yogyakarta tersebut mencari nafkah dengan membuka jasa melatih trik hipnotis dan mengobati orang kesurupan lewat perantara promosi di Facebook. Bayarannya mulai Rp300.000-Rp1 juta, tergantung tingkat kesulitan dan durasi latihan.

“Saya dulu punya murid bisa 25 orang dalam sebulan,” tutur Bram, Senin (8/8).

Setelah itu, ia membuat video soal trik hipnotis dan sulap di Facebook. “Ada yang tanya caranya gimana. Ya sudah, saya jualan sekalian (alat-alatnya),” katanya.

Dahulu, kata Bram, minat orang terhadap hipnotis, sulap, dan praktik perdukunan lumayan tinggi. Buktinya, sekali mengajari trik dan menjual alat sulap, ia bisa memperoleh keuntungan lebih dari Rp1 juta per orang.

Beraneka benda-benda “magis”, seperti jenglot, rantai babi, keris petir, dan botol asap dijajakan Bram di Instagram dan mulut ke mulut. Ia mengaku, beberapa benda hanya replika, terbuat dari bangkai ular atau serat tumbuhan.

“Jenglot berbahan (bangkai) ular saya jual Rp750.000. Keris yang bisa keluar api saya jual Rp400.000,” ujar dia.

Menurut Bram, jenglot dan keris petir masih diburu banyak orang. Biasanya, barang-barang itu dibeli pelanggannya untuk hiasan rumah hingga praktik perdukunan. Namun, ia mengakui, rata-rata konsumennya adalah orang yang menekuni dunia supranatural. Benda semacam jenglot atau sejenisnya dibeli untuk memberikan aura gaib dan menyugesti pasien.

“Kalau tempatnya kelihatan sakral kan orang tersugesti,” kata Bram.

Kendati begitu, Bram menekankan, trik dalam hipnotis atau mengobati orang kesurupan bukanlah ilmu mistis. Metodenya bisa dijelaskan dengan logika.

“Saya kasih tahu, itu cuma sebuah permainan dan sebenarnya bisa dilakukan setiap orang,” tuturnya.

Cuan benda “magis” dan mengapa praktik perdukunan eksis

Mengapa percaya?

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sukron Kamil mengatakan, adanya masyarakat yang percaya jimat atau benda magis merupakan potret nyata praktik perdukunan masih berakar kuat. Ia melihat, penyebabnya karena ada hukum jual-beli.

“Karena ada penjual dan pembelinya. Hukum penawaran dan permintaan,” kata Sukron, Kamis (11/8).

Bila ditarik ke belakang, Sukron menjelaskan, praktik perdukunan adalah imbas dari proses islamisasi dan sufisme di Indonesia, yang terlalu menonjolkan sisi supranatural ketimbang rasional. Hal itu membuat masyarakat cenderung gandrung pada sisi keagamaan yang menonjolkan supranatural.

“Islamisasi di Indonesia, paling tidak pada periode awal, bukan lewat jalur politik, tapi lewat sufisme,” tutur dia.

“Sufisme itu pendekatan keagamaan yang menyuburkan praktik-praktik supranatural. Cerita para wali hingga hari ini orang lebih senang diceritakan tentang karamahnya, ketimbang hal-hal rasional.”

Sukron menilai, praktik perdukunan sangat diminati masyarakat di daerah yang lekat dengan klenik. “Mungkin lebih dari 30% masyarakat kita yang percaya karena fenomenanya masih seperti itu,” kata Sukron.

Infografik trik dukun. Alinea.id/Firgie Saputra

Dari bahasa sehari-hari yang menyebut dukun atau orang yang dinilai punya kekuatan supranatural sebagai orang pintar, kata Sukron, merupakan potret praktik perdukunan masih eksis.

“Padahal, praktiknya tidak logis,” ujar dia.

Di perdesaan, jelas Sukron, bisa ditemui dengan mudah masyarakat yang lebih memilih datang ke dukun ketimbang ke dokter saat sakit. Sebab, pengobatan dukun dianggap lebih mujarab.

“Padahal, belum tentu berhasil juga di dalam konteks (mengobati) ini,” ucap Sukron.

Sukron mengajak masyarakat di perdesaan untuk tak lagi mudah tertipu dengan paranormal berkedok agama, yang irasional. Ia menuturkan, banyak ulama di desa yang punya pengetahuan agama mumpuni, tetapi kurang dihormati karena tak menampilkan sisi supranatural.

Sukron menyarankan, sebagai upaya mengikis praktik perdukunan dan klenik, semua pihak mesti menonjolkan sisi rasional dalam beragama. “Jangan salah, radikalisme dan konservatif agama juga timbul karena agama terlalu dilihat irasionalnya,” tutur dia.

“Ini sisi yang membuat Indonesia kelihatannya tidak maju-maju.”


Artikel ini bersumber dari www.alinea.id.